PENGIKUT TREND
Pagi itu matahari terbit dengan begitu terang, cahaya
matahari masuk melalui celah-celah jendela kamarku yang gelap, namun aku tidak
peduli dengan cahaya yang membangunkanku seketika, aku tetap melanjutkan tidurku,
menutup tubuhku dengan selimut tebal.Tiba-tiba cahaya matahari menjadi begitu terang
dan selimut yang menutupi tubuhku terbuka. Ternyata ibuku yang sedang membuka
jendela dan mencoba membangunkanku.
“Nak, ayo bangun! Udah siang lho!” Suara ibuku yang
berbicara kepadaku.
“Hmmm, ini kan hari libur bu.” Kataku yang masih setengah
sadar.
“Iya, ibu tau, tapi kan kamu harus bantu-bantu ibumu, jangan
tidur terus. Lihat tuh adikmu sudah bangun dari tadi.” Ibuku menjawab.
“Hoaaammmm, iya deh bu aku bangun.” Jawabku yang masih
mengantuk.
Aku pun bangun dan mencari udara segar di luar. Terlihat
adikku yang sedang menyapu halaman depan rumahku yang terlihat begitu kotor
karena banyak dedaunan yang jatuh dari pohon.
“Tumben banget kamu nyapu, Din.” Sapaku kepada adikku.
“Iya dong kak, kan aku anak rajin hehe.” Jawabnya sambil
tertawa.
“Ah paling kamu kepaksa di suruh ibu nyapu.” Jawabku sambil
meledek.
“Huuu ya nggaklah kak, emang kakak kalau di suruh ibu harus
dipaksa.” Adikku membalas ledekanku.
Aku pun tak menjawab ledekannya tersebut.
“Buruan tu kak bantuin ibu, kasian libur-libur begini banyak
kerjaan rumah.” Adikku berkata lagi.
“Iya deh iya.” Aku menjawab dengan agak malas.
Aku pun kembali masuk ke dalam rumah dan menuju ke ibuku
untuk bertanya apa tugas yang harus kukerjakan. Ibuku memberiku sapu dan
menyuruhku untuk menyapu seluruh lantai yang ada dirumah.
Seharusnya hari itu aku pergi ke Artos bersama teman-temanku
untuk menonton film terbaru yang baru saja rilis minggu ini di bioskop. Tapi
apa dayaku, aku harus membantu ibuku untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Aku
pun menghubungi teman-temanku dan meminta maaf kepada mereka karena aku tidak
bisa ikut pergi menonton bersama mereka.
Aku kurang bersemangat untuk melakukan pekerjaan rumah. Tidak
terbiasa dengan apa yang kulakukan, aku membersihkan rumah dengan agak
santai-santai.
Pekerjaan rumah pun sudah ku selesaikan walaupun banyak yang
masih belum bersih saat aku menyapu. ”Tapi ya sudahlah tidak apa-apa, aku sudah
malas menyapu.” kataku.
Tiba-tiba ibuku datang menghampiriku yang sedang leyeh-leyeh
di bangku dekat televisi.
Ibuku,“Ya ampun le, nyapu kok ora resik. Masih banyak yang
kotor.”
“Ahhh udah capek, bu” kataku
“Ya sudahlah ibu yang bersihin sisanya.”
Dalam hati aku merasa senang.
Setelah aku selesai bersih-bersih aku pun mandi karena
tubuhku kotor dan sudah bau yang dari tadi pagi belum mandi. Selesai mandi, aku
melihat adikku, Didin, berjalan pelan-pelan keluar rumah. Aku bertanya pada
Didin.
“Mau kemana Din siang-siang begini?” tanyaku
“Anu kak, aku mau pergi ke jalan raya, mau Telolet.” Jawabnya
“Telolet? Apaan tuh? Kakak baru denger.” Tanyaku penasaran.
“Huuuu kakak ndeso banget sih nggak tau telolet. Itu lho
yang baru nge trend sekarang ini.” Jawab Didin sambil meledekku
“Kakak nanya malah diledek.” Jawabku agak marah.
“Ya udahlah kak, pokoknya aku mau Telolet. Ijinin ibu ya.”
Adikku menjawab sambil berjalan keluar rumah.
“Ya sana hati-hati.”
Aku pun melanjutkan aktivitasku di rumah. Seharusnya aku
bisa pergi menonton bersama teman-temanku, tapi aku harus membantu ibuku. Agak menyesal
juga tidak bisa ikut bersenang-senang bersama teman-teman. Dengan agak kesal,
aku pun cuma menonton televisi di rumah.
Hari menuju siang hari, matahari berada di atas kepala,
begitu panas saat itu. Hawa panas yang membuat badan basah kuyup oleh keringat.
Padahal aku sedang berada di dalam rumah. Aku masih menonton televisi sejak
tadi. Tiba-tiba ibuku datang menghampiriku dan bertanya.
“Didin ke mana, sudah sejak tadi ibu tidak melihat wajahnya?
“ tanya Ibuku
“Didin pergi bersama teman-temannya ke pinggir jalan raya.
Katanya sih mau Telolet, Bu, “ jawabku.
“O alah, Din, Telolet ki panganan opo. Lha, mbok baca
sholawat di rumah bisa untuk sangu akhirat.” Kata ibuku.
“Cari Didin sana, ini udah waktunya makan siang. Ibu udah
capek-capek bikin masakan.” Ibuku berkata kepadaku sambil menyuruhku.
“Huh, iya bu.” Jawabku agak malas menjawab perintah ibuku.
Aku pun berjalan keluar rumah, mencari Didin yang entah ada
dimana. Katanya sih di jalan raya, tapi aku cari nggak ketemu-ketemu. Aku berjalan
di bawah teriknya sinar matahari. Panas yang luar biasa, sampai-sampai membakar
kulit putihku. Hawa yang panas juga membuat bajuku menjadi basah kuyup karena
keringat yang terus keluar.
Setelah aku berjalan begitu jauh, aku menemukan Didin dan
teman-temannya ada di pinggir jalan. Aku pun menghampirinya dengan terburu-buru
karena tidak tahan dengan panas. Ternyata Didin sedang berteriak-teriak ke
setiap bus yang lewat di jalan raya sambil berkata ‘OM TELOLET OM’. Aku baru
menyadari, mungkin itu yang dimaksud Didin mau Telolet tadi. Aku mendekat pada
Didin dan kawan-kawannya.
“Din, ayo pulang. Ibu udah nyiapin makan siang buat kita.” kataku
“Bentar ah kak, lagi seru nih.” Jawab Didin
“Seru gimana sih? Masak teriak-teriak ‘OM TELOLET OM’ itu
seru?” jawabku
“Coba deh kak ikutan, pasti nanti kakak ketagihan.” Didin
membujukku.
Aku pun penasaran dengan apa yang dikatakan Didin. Aku mencoba
ikut-ikut Didin, katanya sih seru. Kami pun menunggu bus yang lewat jalan raya.
Padahal siang itu begitu panas. Entah kenapa Didin dan kawan-kawannya begitu
kuat menahan panas yang hampir membuat mati.
Setelah menunggu lama, akhirnya ada bus yang lewat. Kami bersiap
untuk berteriak. Bus itu lewat dan kami berteriak ‘OM TELOLET OM’. Seketika itu
juga bus itu membunyikan klakson yang berbunyi ‘telolet telolet’. Kami pun
tertawa senang ketika bus itu membunyikan teloletnya. Dalam batin aku berkata,”ternyata
seru juga ya.”
Kami melanjutkan pencarian Telolet sampai kami melupakan
waktu. Aku bahkan lupa dan tidak memperdulikan tugas yang diberikan ibuku untuk
mencari Didin. Kami tertawa senang di pinggir jalan yang begitu panas itu.
Setengah jam berlalu. Tanpa sadar aku sudah lama
bermain-main bersama Didin dan kawannya. Waktu itu saat ada bus yang lewat,
kami melangkah sedikit maju ke jalan raya untuk berteriak lebih keras ke bus
itu. Tiba-tiba ada sepeda motor yang melaju kencang sekali. Kami tidak
memperhatikan sepeda motor tersebut. Dan akhirnya aku dan Didin tertabrak
sepeda motor tersebut. Kami terlempar jauh saat motor itu menabrak kami. Motor yang
menabrak kami pun terjatuh. Aku dan Didin mengalami luka yang parah. Kakiku keseleo
dan sulit digerakkan. Lenganku tergores aspal jalan yang panas sehingga
lenganku sobek dan banyak darah keluar. Sedangkan Didin mengalami luka sobek
pada kakinya yang terkena motor tersebut. Kami kesulitan untuk bergerak. Teman-teman
Didin akhirnya membawa kami pulang ke rumah untuk memberi tahu kepada ibu kami
bahwa kami baru saja mengalami kecelakaan.
Setibanya di rumah ibu kami kaget.
“Masyaallah, Agus sama Didin kenapa?” Ibuku bertanya.
“Anu bu, tadi mereka berdua ketabrak motor.” Jawab salah
satu teman Didin.
“Ya ampun le, kok bisa ketabrak?” Tanya ibuku lagi.
“Anu bu, tadi kita sedang main telolet di jalan raya.” Jawab
teman Didin yang lain.
“Ya ampun Gusti Allah. Makanya jangan main di jalan raya. Kan
jalan raya depan situ ramai. Untung cuma luka ringan, coba kalau ketabrak bus
atau truk? Gimana nasibmu nanti nak.” Ibuku menjawab dengan nada agak marah.
“Ampun bu, kami cuma ngikutin trend terbaru yang ada.” Jawabku
kepada ibuku.
“Trend sih trend, tapi nggak harus sampai bikin nyawamu
hampir celaka toh nak. Ya sudahlah, lain kali jangan main-main di pinggir jalan
raya, bahaya le.” Jawab ibuku yang masih marah.
“Iya bu maafkan kami, kami janji nggak bakal ngulangi lagi.”
Jawab kami menyesal.
Kami pun dibawa masuk ke rumah. Kemudian ibu kami merawat
kami yang sedang terluka parah. Kami menyesali apa yang sudah terjadi pada hari
itu.

Komentar
Posting Komentar